![]() |
"Mungkin dia bosan. Mungkin dia jenuh. Mungkin dia muak melihat tingkahku yang kekanak-kanakan“.
Manja, pemarah, tidak sabaran, keras kepala, mudah
menangis, sesitif, kepo dan menarik kesimpulan sendiri tanpa mendengarkan
penjelasan darinya. Berulang kali ia menjelaskan seperti ini itu kepadaku,
berulang kali ia melarang ku begini dan begitu. Tetapi semua itu aku rasa
sia-sia baginya. Sifatku masih sama walaupun menurutku sendiri ada beberapa
dari sifatku yang sudah mulai berkurang.
Aku bukan pacarnya. Aku juga
bukan gebetannya apalagi orang teristimewanya. Aku hanya temannya. Teman 1
tahun yang lalu, dan entah apakah sekarang status itu berubah menjadi lebih
baik, lebih buruh atau tidak sama sekali berubah. Hubungan kami saat ini memang
tidak ada kejelasan. Apakah teman ? apakah sahabat ? apakah orang yang
teristimewa atau bahkan orang yang tidak penting.
Makin hari hubungan kami makin
jauh. Semenjak aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Mungkin ini salah ku yang telat menyadari bahwa
dahulu dia yang selalu menjadi teman curhatku, perhatian denganku dan perlahan
merubah sifatku demi kebaikanku. Aku malah menyukai orang lain, yaitu temannya
sendiri yang sebenarnya aku belum terlalu dalam mengenalnya. Sekali lagi aku
katakan ini salahku. Menyesalkah ? Ya! Aku sama sekali menyesalinya.
Sebelum aku mengambil keputusan
bahwa aku memang menyukainya. Aku memikirkannya matang-matang. Mengapa seperti
itu ? Alasannya karena kami berbeda suku. Dalam suku ku, kaum wanita diharuskan
menikah dengan sesama satu suku. Itulah yang diceritakan nenekku (opung). Maka
dari itu aku lebih menyukai pria yang sesama suku denganku. Tetapi lambat laut penyataan itu mulai
memudarkan keyakinanku ketika aku jatuh cinta dengan seorang pria dari sebrang
sana. Sebelumnya butuh perjuangan untuk menyakinkan diriku untuk jatuh cinta
bahkan menyukainya. Cukup lama aku meyakinkan diriku sampai sempat aku berkata
dalam hati ku sendiri “ Sudahlah, ngapain sih suka sama orang yang beda suku
sama mu. Ga akan enak, ga akan seru, pengetahuan budaya tentang budaya mu sendiri tidak akan bertambah jika kamu
memilih dia “. Sudah cukup sering kalimat itu muncul sampai mengangguku. Tetapi
hati tidak bisa berbohong, sepertinya aku mulai jatuh cinta dengannya.
Pada akhirnya, aku membiarkan
hatiku yang memimpin langkahku ini. Aku mulai membuka hatiku untuknya.
Membiarkan hatiku menerimanya sampai pada akhirnya kekecewaan yang aku terima.
Mungkin bagi banyak orang kekecewaan adalah hal yang menyakitkan sebelum masuk
dalam fase patah hati. Namun bagiku, kekecewaan adalah resikoku apalagi aku
sempat melihat dia dengan dengan teman wanitanya. Tetapi, aku memilih untuk
memendamnya. Meskipun aku tahu, akan ada hati yang tersayat.
Kemudian dari mulai kecewa itulah
sikapku berubah. Aku sadar sikapku lebih temperamen, egois, sensitive dan
sering menangis. Mungkin rasa kecewa itu sudah memenuhi sudut demi sudut ruang
hatiku. Tetapi, saat mulai kembali chatting dengannya ibaratkan sebuah warna biru
langit dan merah jambu (pink). Menyejukan, membuat selalu tersenyum, lucu, lucu
dan membuat aku lupa bahwa aku punya rasa kecewa dengannya. Aku sangat
menikmati obrolan setiap topic yang kami bahas. Seperti layaknya teman, kami
saling terbuka satu dengan yang lain.
Sampai pada akhirnya, aku melihat
1 komentar yang membuatku amat sangat mengecewakan. Ia mengatakan padaku bahwa
teman wanitanya adalah saudaranya. Tetapi, berbeda dengan 1 komentar postingan
tersebut. Aku tidak mau terburu-buru mengambil kesimpulan dari komentarnya
tersebut yang ditandai ke media social wanita itu. Aku berusaha menanyakan
beberapa teman yang aku coba untuk menapsirkan komentar tersebut dan merekapun
mempunyai persepsi yang sama denganku. Disitulah aku pasrah tetapi tidak menyerah.
Aku sabar menunggu, sabar menghadapi segala sikapnya dan sabar juga menyikapi
omongan teman-teman yang tidak menyukai aku bergalau karenanya. Tetapi aku
tetap berusaha untuk bersabar sampai Tuhan memberikan jawaban yang tempat
untukku.
*****
Hari itu entah hari apa, yang
jelas hari yang tidak ku duga sama sekali. Kami memang sedang chattingan
seperti biasa pada saat itu, kemudian ia berkata “aku kagum dengan usahamu. Aku
sepertinya luluh”. WOW menurutku itu
kemajuan yang luar biasa. Dalam hati berkata “ akhirnya ini orang luluh juga
sama gue”. Tetapi baru saja aku menikmati kesenangan itu, dia langsung berkata
kembali “ luluh bukan karena aku sudah punya perasaan sama kamu. Maksudku luluh
karena perjuanganmu “. Seketika hati ini rasanya pecah. Ternyata persepsi luluh
menurut dia adalah perjuanganku, padahal aku sama sekali tidak berjuang tapi
aku hanya berusaha saja semampuku. Toh aku hanya membutuhkan kesabaran saja.
Kembalilah aku kecewa dan peristiwa ini yang tidak bisa aku lupakan.
Semenjak hari itu semakin hari
semakin menambah rasa sayang samanya juga semakin menambah pula rasa kecewa dan
patah hati kepadanya. Mungkin sebagian ini karena salahku yang terlalu berharap
dan terlalu sayang dengan seseorang yang sudah membuatku nyaman 4 bulan yang
lalu. Hari semakin berlalu namun perasaan ini masih sama. Tidak ada yang
berubah. Masih tetapi berusaha sabar menunggu maunya dia walapun aku merasa
seperti layangan yang sedang dimainkan oleh anak-anak. Ditarik dan diulur dan
seterusnya. Semakin bertambah perasaan ini semakin aku merindukannya.
Merindukan hal-hal yang biasa aku dan dia lakukan. Tertawa bersama, marah-marah,
salah paham seperti halnya orang pacaran padahal kami tidak pacaran.
Harus aku akui, memang beberapa
kenyataan bahwa tidak semua yang diharapkan sejalan dengan yang kita mau. Kamu
yang mengalah dengan sejuta harapan kepadanya atau dia yang mengalah dengan
sejuta harapan aku. Ya tentu aku memilih aku yang mengalah. Aku yang jatuh
cinta terlambat kalau aku tidak jatuh cinta terlambat mungkin aku tidak akan
merasakan perasaan seperti ini atau jika aku jatuh cinta pertama kali kita
dijodohkan oleh teman kita, aku tidak akan belajar untuk menunggu seseorang,
bersabar dan tentu menahan rasa kecewa ini.
Terkadang memang ada seseorang
yang mencoba mendekatiku, bahkan dia satu suku denganku. Kadang juga dia
membuatku jatuh cinta dan hampir lupa dengan orang yang aku sayangi sekarang.
Di satu sisi aku ingin mencoba membuka hati untuk orang yang baru tetapi aku
juga tidak ingin melepaskan orang yang aku sayang. Namun itu terkesan rakus,
serakah dan seperti membutuhkan kasih sayang. Aku tak mau mendapatkan kesan
seperti itu dan aku memilih untuk tetap menunggu orang yang aku sayang ini
menjawab perasaannya kepadaku.
Dia pernah mengatakan bahwa kamu
takut jatuh cinta ? alasannya karena dia pernah beberapa kali merasa tersakiti
oleh seorang wanita. Dan pada akhirnya dia takut untuk membuka hatinya,
meyakinkan dirinya berkali-kali sampai dia lupa bahwa ada seorang wanita yang
menunggu dan merasa tersakiti karena sikapnya. Dan bisa saja perilaku ini yang
membuat aku juga takut untuk jatuh cinta lagi. Kalaupun aku boleh bercerita
sedikit, akupun pernah mengantungkan harapan ku pada seseorang. Sebelum pada
akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa berharap terlalu tinggi akan
membutmu terluka terlalu dalam. Lukanya sampai saat inipun masih membekas.
Memang tidak terlihat dan tidak berdarah tetapi menyakitkan sekali.
Mungkin kamu merasa jengkel,
menyebalkan kepada diriku saat kamu melihat status facebook, bbm hampir semua
tentang patah hatinya, sakit hatinya dan galaunya aku sama kamu. Dan pasti kamu
berpikir bahwa aku adalah orang yang tidak bisa menulis sedikitpun tentang
kegalauan diriku. Mungkin kamu benar. Aku memang masih sering menulis
kegalauan-kegalauan gilaku walaupun ga semuanya tentang kegalauanku tentang
kamu. Aku senang melakukan hal tersebut. Mencurahkan perasaan ku di media
social (facebook, instagram, bbm) walaupun mungkin aka nada yang tidak menyukai
itu termasuk kamu.
Dan kamu tau, harapanku sekarang
adalah kembali seperti dulu. Chatting denganmu hampir setiap hari dan kamu
tidak perlu secuek ini terhadapku. Aku hanya lelah menunggu balasan chatting
yang sudah kutunggu-tunggu sampai ke hari esokpun kau tidak membalasnya dan
akupun lelah menangis setiap malam hanya karena sikapmu yang terlalu dingin
denganku. Aku harap Tuhan menjawab sesegera mungkin doa yang aku panjatkan
setiap malam.
Bersambung --.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar