Seorang
pria dewasa yang memiliki kepribadian menarik sehingga dapat memikat kaum
wanita untuk mendekatinya. Sebut saja dia, Nobita. Aku senang memanggilnya Nobita
sebab penampilannya seperti Tokoh kartun Jepang dalam serial Doraemon. Dengan
kacamata, baik, sopan dan menghargai wanita. Menurutku itu panggilan
kesayanganku kepadanya walaupun kami tidak terkait hubungan apapun. Namun, aku
menyayanginya.
Suatu sore itu, aku galau. Ya, galau karena putus dengan
pacarku, Ezer. Aku dengannya memang seringkali bersilih paham. Entah karena
hal-hal kecil ataupun hal-hal yang menurut aku tidak perlu di besarkan. Aku
dengannya mempunyai watak yang sama-sama keras kepala, kasar dan juga memiliki keegoisan
yang sangat tinggi. Mungkin, itu sebabnya kami memilih untuk berpisah.
Ketika fase dimana galau itu melanda, aku selalu
menyempatkan diriku untuk memposting kesedihanku di dunia maya. Tulisku, “
Hiduplah berbahagia dengan pasanganmu disana, sayang. Aku disini mendoakan
kebaikanmu walaupun perih “. Bagiku, dunia maya adalah teman yang baik. Baik
untuk mengeluarkan emosi, kesedihan, kedongkolan dari dalam hati. Aku tak
memperdulikan orang yang berteman denganku di dunia maya. Entah mereka
merasakan risih dengan postinganku
ataupun merasa ilfeel melihatku. Aku tidak perduli sama sekali. Yang jelas,
saat aku memposting hal-hal yang keluar dari dalam hati atau bisa di bilang
unek-unek dan itu membuatku merasa lega. Menurutku, itu lebih baik dari pada
aku harus meluapkan emosiku kepada orang-orang di sekitarku.
Empat orang menyukai postinganku di media social,
tiba-tiba satu orang berkomentar di statusku “ sudah, jangan galau terus “. Aku
melirik namanya, dia Nael yang sekarang aku sebut dngan Nobita. Kemudian aku klik nama yang tertera dalam kolom
komentar statusku. Aku lirik foto profil tersebut. Ya, aku ingat. Ia adalah
teman dari mantanku (bukan Ezer). Nael adalah teman mantanku sebelum aku
berpacaran dengan Ezer. Sepengetahuanku dia sudah mempunyai pacar. Namun saat
aku lirik status hubungannya ternyata “lajang”. Kepoku berhenti sampai disitu.
Masih belum ada rasa ketertarikan saat itu.
Beberapa hari sesudah kejadian itu, kami seringkali saling
ber komentar, chattingan, bercerita tentang masa lalu masing-masing, sharing,
bertanya. Hingga pada akhirnya, hatiku dibuat jatuh olehnya.
Ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hati. Aku tak lagi
memikirkan Ezer, mantanku itu. Sering kali aku memikirkan Nael (Nobita). Aku
merasa ada perasaan berbeda bahkan seringkali mamaku mempergokiku tengah senyum-senyum
di depan cermin kamarku. Ya, namanya juga jatuh cinta. Apapun bisa di lakukan
ketika sedang jatuh cinta.
Tanpa aku sadari, makin hari makin bertambah rasa itu
kepadanya. Entah darimana asal rasa itu datang. Entah sejak kapan rasa itu
bertambah dan entah sejak kapan rasa itu berubah menjadi sayang. Kali ini bukan
suka yang aku rasakan akan tetapi rasa sayang yang aku rasakan.
Seperti pada judul ceritaku, aku dan nael tak pernah
bertemu. Kami hanya di pertemukan di salah satu media social. Tanpa disengaja.
Aku tahu, aku yang memulai jatuh cinta, bukan dirinya. Dan aku paham betul aku
yang memiliki perasaan ini terlebih dahulu dan sekarang aku yang harus berjuang
untuk memikat hatinya tanpa harus memperdulikan hatiku yang mungkin pada saat
itulah awal mulanya aku berharap (lebih).
Seperti pada umumnya orang-orang jatuh cinta. Aku sering
memperhatikannya walaupun hanya lewat social media, melirik social medianya
hanya untuk hiburan ketika aku mulai merindukannya. Memberi semangat kecil sekadarnya.
Walaupun, aku tahu banyak sekali wanita sepertiku yang selalu menyemangatimu.
Aku hanya bisa seperti itu, hanya bisa menyemangatimu dari handphoneku,
merangkai kata-kata untuk membuat dirimu selalu bersemangat tanpa ada kata
lelah dan menyerah. Sejujurnya, aku pasti kalah bersanding dengan wanita-wanita
yang berada disekitarmu. Mereka bisa melakukan lebih dari apa yang aku lakukan.
Mungkin bahkan lebih berkesan di bandingkan apa yang aku lakukan. Aku hanya
ingin kau tau ada seseorang yang ingin kau lirik sepenuh hati saat itu juga.
Menstalking
media sosialmu adalah hobi ku setiap di sela-sela kesibukan kuliahku. Aku kepo
dengan apa yang kamu lakukan setiap hari, foto-fotomu bersama teman-temanmu,
bahkan terkadang aku merasa ikut bahagia ketika melihat fotomu tersenyum. Ya,
aku akui senyumanmu yang membuat aku bisa merasakan jatuh cinta. Aku tak mampu
menjelaskan bagaimana senyumanmu. Yang membuatku merasa aneh adalah itu
senyuman hanya di sebuah foto. Di foto saja kamu bisa membuatku jatuh cinta
apalagi ketika kita di takdirkan oleh Tuhan untuk bertemu ?. Meskipun
sejujurnya, aku ingin berada di sampingmu memberi perhatian khusus seperti
orang pacaran walaupun kenyataannya sulit.
Tidak
luput, aku selalu mendoakanmu setiap menjelang tidurku. Di tengah-tengah doa
tidur yang aku panjatkan untuk sanak saudara, kerabat, teman dan orang tua. Aku
selalu menyelipkan namamu dalam doaku. Apapun yang aku doakan yang terbaik
untuk dirimu. Kelak, jika Tuhan menjawab doaku untuk bertemu denganmu dan
menjalin suatu hubungan, aku tak akan pernah menyesal sekalipun telah berdoa,
berusaha dan berjuang untuk dirimu. Tolonglah, biarkan rinduku aku sampaikan.
Bukan untuk memaksamu merindukanku kembali. Aku hanya ingin mencintaimu tulus
tanpa pernah memaksamu untuk membalasnya kembali. Karena bagiku, cinta bukan
paksaan tapi cinta datang tanpa paksaan.
Aku
mulai jatuh cinta saat kau mengeluarkan kata-kata bijakmu kepadaku.
Menasehatiku seperti betapa kau perduli denganku, menasehatiku seperti betapa
kau membuatku bangkit dari rasa galauku, menasehatiku seperti betapa kau
meyakinkanku semua akan baik-baik saja.
Ibarat
seperti wanita yang sedang menjalankann wisudanya di hari bagianya lalu datang
seorang pria yang memberikan mawar merah, merah muda dan putih. Begitulah
perasaan saat aku memulai pembicaraan melalui obrolan di facebook ataupun BBM
denganmu. Ada rasa senang, bahagia, ketagihan chattingan saat itu. Bahkan
jikalau perlu sampai pagi chattingan denganmu. Gimana bisa sebahagia itu ?. Ya,
kamu pasti akan merasakan seperti ini saat aku bertemu dengan idolamu. Sangat
antusias, gembira, senang dan bahagia. Jika disuruh untuk menjelaskan dimana
letak bahagia itu ? mungkin sebagian besar akan menjawab “nggak tau” atau
menjawab “ya bahagialah, orang ketemu idol gue banget”. Sama halnya diriku yang
bahagia walaupun hanya chattingan saja.
Ketika
kau memulai untuk membalas pesan seseorang yang kau cintai, mungkin saja kau
akan merangkai kalimat yang tepat bahkan membaca berulang kali isi balasanyang
ingin kau kirim. Bagi orang yang sedang jatuh cinta yang penting adalah
bagaimana bisa mempertahankan chattingan tersebut sampai lama bahkan bisa
bersambung keesokan harinya.
Menunggu
balesanmu adalah hal yang sering aku takutkan. Ya, aku takut hanya di baca saja
tanpa mau membalas, aku takut pesanku yang mungkin melukai hatimu ataupun aku
takut ketika aku menganggu kau yang sedang bergelut dengan tugas kuliahmu.
Sebenarnya, tak perlu perasaan selebay ini di permasalahkan atau di takuti.
Yang namanya proses jatuh cinta itu ya seperti ini. agak sulit untuk di
mengerti namun kenyataannya begini.
Orang
yang jatuh cinta selalu dapat membuat sifat seseorang berubah secara mendadak.
Temanku yang berpenampilan ga karuan sekarang telihat rapih semenjak ia jatuh
cinta. Temanku yang sering berbicara seperti ingin memakan orang dengan nada
suara 3 oktaf, berubah menjadi lemah-lembut dan anggun semenjak ia jatuh cinta
juga. Namun, ini tidak berlaku samaku. Aku biasa aja. Berubah sekalipun kaya
wonder women atau pahlawan bertopeng pun tidak akan pernah dia perdulikan.
Secantik apapun aku memfoto diriku dengan kamera 360 atau B612 hanya sekali
saja dia merespon “manis kali”. Sesudah itu mana ada komentar darinya. Inilah
resiko menyukai pria cuek, dewasa dan berwibawa sekali.
Aku
selalu mengeluh, sebenarnya ada apa dengan perasaanku ?. Temanku sering
bertanya padaku “ Loh, kok bisa sih suka sama orang yang belum pernah ketemu ?.
apa sih yang kamu suka dari dia kan belum pernah ketemu “. Alasanku selalu
berkata “ Aku nyaman ketika berbicara dengannya “. Akan tetapi, aku pikirkan
kembali apakah memang aku nyaman ataukah aku terbawa oleh perasaan. Kata orang
gahol itu namanya baper. Ini masih misterius dan belum dapat aku pecahkan
sampai sekarang.
Setiap
malam aku selalu memikirkan dirinya. Dahulu yang sering kali chattingan hingga
pukul 02.00 pagi. Sekarang ?? aku tidur lebih cepat, melihat handphone tidak
ada satupun chattingan dari dirinya. Aku teringat, setiap kau mengeluh sakit di
dalam status media sosialmu. Aku sangat antusias memperhatikanmu dari mulai hal
yang terkecil. Mengingatkanmu untuk mengurangi merokok demi kesehatanmu.
Khawatir ketika kau mengeluh sakit hebat. Seharusnya aku yang merawatmu,
memanjakanmu di sampingmu tetapi aku hanya bayangan dunia maya saja.
Tengah
malam itu hujan mendadak turun dengan cepat. Membasahi tanah sekitar halaman. Saat
itu aku dan dia sedang chattingan. Rupanya, dia mengetahui jikalau aku
menyukainya. Ya, aku yang selalu bermain kode kepada seseorang yang aku sukai
ternyata telah sampai kepadanya. Waktu itu kami ngobrol agak lama, sampailah
pada satu pesan dirinya yang bertanya,
“
mik, kau menyukaiku ?”.Tanyanya
“
apa ? ah tidak. Itu tidak “. Jawabku
“
sudahlah jangan di sembunyikan. Aku mengetahuinya kok “. Ucapnya
“
hehe, nggak kok. aku nggak menyukaimu “ sangkalku
“
ohh begitu ? yakin nih ? sudah tidak apa-apa kok kalo kau menyukaiku” desaknya
“
hmm, ya aku jujur. Aku menyukaimu, nael “ ucapku
“
kau wanita yg baik, polos, sedikit tomboy. Seharusnya kamu mencari pria yang
berada disekitarmu dahulu. Aku tak sebaik yang kau pikirkan “ jawabnya
“
ohh begitu. Ya sudah. Maaf “.
Disitulah
terakhir hubungan kami baik-baik saja. Setelah peristiwa itu, semua terasa
berbeda. Sampai akhirnya aku mengatakan bahwa “aku mengasihinya tulus”. Aku tak
perduli latarbelakang keluarganya yang mampu atau tidak mapun atau yang lainnya.
Yang ada dalam pikiranku adalah “ aku mengasihinya tulus “. Mungkin, yang
menjadi kendala adalah sebuah kata “pertemuan”. Hanya aku saja mungkin yang
merasakan atau berpendapat cinta dapat tumbuh walaupun tanpa pertemuan. Aku
mengerti cara berpikir dia, karena lelaki memang lebih memilih untuk memakai
logika di banding perasaannya.
Namun,
tiba-tiba ada hal yang membuatku tersadar. Alasan yang selalu aku utarakan
kepada teman-temanku soal “nyaman” sekarang tidaklah nyaman. Bagaimana bisa
terjadi ?. Aku bahkan tidak mengetahui hal itu bisa berubah secepat mungkin
ketika dia hanya mengganggapku sebagai adiknya. Besar harapanku untuk bersamnya
seketika retak. Aku jatuh pada seseorang yang hanya menganggapku sebagai adik.
Dan mungkin tidak akan pernah lebih.
Yang
dalam pikiranku sekarang. Apakah aku salah ? siapa yang salah sebenarnya ? aku
atau perasaan ini ? apakah ada cinta yang salah ? apakah cinta pantut untuk di
salahkan ? lantas, kenapa ada kisah seperti ini ? pada saat kita mengharapkan
sesuatu yang lebih dari seseorang yang kita cintai namun tidak sesuai dengan
apa yang kita inginkan.
Pada
saat seperti ini. aku ingin sekali dapat memilih. Bertahan dan terus berjuang
untuk mendapatkan cintamu atau pergi meninggalkan rasa yang pernah ada. Aku
tahu, ini adalah hal yang harus aku pilih walaupun sulit. Namun, mencintaimu
bukan suatu yang patut aku salahkan. Mungkin saja cinta kali ini datang dengan
scenario Tuhan yang lebih menarik. Ya lebih menarik dan menguji kesabaran dan
menguras air mata. Memilih untuk sanggup bertahan walaupun salah satunya akan
tersakiti atau pergi meninggalkan kisah ini sampai disini dan memulai kisah
baru. Namun, saat aku memilih untuk memutuskan hal-hal tersebut. Aku harus
memahami dan mempastikan diriku tidak menyesal atas pilihan tersebut.
Soal
mencintaimu adalah pilihan yang mempunyai resiko yang besar. Aku paham sekali
bagaimana hatiku berkerja memulihkan semua keadaan. Kata orang “cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu
yang terus berjalan”. Terkadang dampaknya bisa baik ataupun sebaliknya
memperburuk keadaan yang semulanya baik-baik saja.
Maafkan
jika aku selalu membuatmu pusing akan perasaanku ini. Namun ketika aku tahu kau
mulai jatuh kepada orang lain. Menanyakan kabar orang lain. Semua yang kau
lakukan tidak luput dari pusat perhatianku. Meskipun tidak semua status mu aku perhatikan dengan detail.
Maafkan
aku, aku memilih diam untuk saat ini. karena aku ingin mengetahui responmu
terharapku ketika aku menghilang. Apakah kau mencariku atau tidak sama sekali.
Dan ternyata TIDAK.
Dan
suatu saat nanti, aku satu-satunya wanita yang menunggumu menyapaku terlebih
dahulu bahkan menunggumu menceritakan seseorang yang kau cintai kepadaku.
Meskipun aku merasakan luka yang sama sebelumnya. Ya, setidaknya samapi hatiku
berkata “ Aku lelah Tuhan”.
*****
Seperti
hari-hari biasanya. Aku menunggu pesan singkat darinya. Masih terus menunggu berharap
ia menanyakan keadaanku. Namun, itu hanya sebuah harapan yang tak akan pernah
terwujud. Mungkin ini bagian yang tidak menyenangkan. Selalu menunggu tanpa
kita tahu hasil akhirnya seperti apa.
Seringkali
aku ingin menanyakan kabarnya kembali. Namun, sahabatku yang menjadi teman
curhat setiap aku galau selalu berkata “sudalah, mik. Kau masih saja
mengharapkan dia. Lupakan! Dia bukan pria yang baik untukmu. Jika dia pria yg
baik bahkan mencintaimu juga, dia tidak akan membuatmu menunggu akan hal yg tak
pasti ataupun membuatmu bersedih seperti ini”. Apa yang sahabatku katakan
memang benar. Semua benar. Akan tetapi, hati ini yang bersikeras untuk tetap
bertahan. Kadang terlintas dalam benakku, aku ingin bebas dari bayangnya,
tetapi hati ini seakan mematahkan ucapan itu lalu memutar balikannya kembali.
“aku
lelah Tuhan. Ya, sangat lelah dengan perasaan ini. Semakin hari, semakin lelah
hati ini untuk menunggu. Kapan Tuhan aku bisa melepas utuh rasa ini?”. Itu yang
selalu aku ucapkan ketika aku lelah berjuang.
Aku
lelah terus berpura-pura tersenyum dihadapanmu hanya karena ingin menunjukan
aku wanita yang dewasa. Bukan wanita yang cengeng dan manja. Aku pikir, setelah
aku putus dengan Ezer, aku akan lebih baik. Namun kenyataannya ? aku memang sudah
lebih baik sebelum aku menyimpan rasa terhadapnya.
Sesekali
aku merenung. Apa yang sudah dia perbuat sehingga aku bisa seperti ini. Jatuh
cinta sejatuh-jatuhnya kepadanya. Bahkan tanpa bertemu. Mungkin aku wanita yang
bodoh, dapat menaruh hati kesembarangan pria yang akhirnya menyakitiku.
Diam-diam
aku menjadi tidak tahu malu. Bahkan melakukan hal yang menurut para wanita paling
gengsi. “aku menyatakan perasaanku terhandanya”. Mungkin bagi sebagian wanita
yang mengalami peristiwa sepertiku ini hal yang tidak memalukan. Namun,
sebagian wanita lainnya pernyataan seperti ity seperti wanita yang tidak tahu
malu bahkan dipandang sebelah mata. Toh juga wanita punya hak untuk menyatakan
perasannya, bukan?. Ini bukan masalah lebih dulu siapa yang menyatakan
perasaan. Namun, ini masalah perasaan yang sama sensitifnya seperti bokong
bayi. Tanpa aku sadari, aku tengah memaksamu untuk mencintaiku dengan cara
mengirim atau membuat postingan tentang dirimu, berasa seperti aku wanita yang
paling mencintaimu sekaligus menyakitiku. Aku seolah lupa bahwa cinta bukan
soal paksaan, akan tetapi soal saling mengasihi. Hingga saat ini, apakah aku
sanggup membiarkan hatiku luka kembali. Lalu, mungkin akan bahagia atau tidak
bahagia sama sekali.
Ada
yang benar-benar aku pahami, penting bagiku untuk saling mengintropeksi diri tentang
proses perjalanan cintaku selama ini, apakah sudah berjalan lebih baik atau
sama seperti sebelum-sebelumnya.
Maaf
untuk perasaan yang aku biarkan perlahan memudar. Aku ingin lari dari luka
pedih ini. Juga untuk kita yg belum sempat Tuhan pertemukan. Aku memilih untk
membiarkan rasa ini pudar bukan karena cinta ini sudah habis. Namun, demi luka
yang ingin aku obati secara perlahan.
Aku
akan belajar melepaskan apa yang sebenarnya tak semudah yang dipikirkan. Namun,
cinta perihal soal hati; bertahan dalam kesendirian yang sama sekali tidak
pernah kau tawari aku kebahagiaan bahkan kesempatan untuk membahagiakanmu.
Mengumpulkan
keberanian untuk pergi dari duniamu adalah bukan hal yang mudah. Selalu ada
hati yang siap patah untuk saat itu. Berhenti menstlakingfacebook, twitter ,
status bbm mu adalah hal tersulit bagiku. Berhentimerindukanmu setiap malam. Berhenti
mencari tahu tentang dirimu.
Mungkin,
jikalau tiba-tiba kau menyadari rasa ini tidak lagi sama seperti dulu kala. Jangan
salahkan aku. Aku sengaja mengabaikannya bahkan membunuhnya secepat mungkin. Karena
aku pikir tak ada lagi gunanya terus menunggu dan bertahan dengan seseorang
yang sama sekali tidak mengharapkanku untuk menghuni hatimu. Buanglah, buanglah
rasa itu sejauh mungkin. Biarkan rasa itu benar-benar punah seiring waktu yang
terus berjalan. Aku tidak akan menyesali keputusanku karena menurutku ini yang
terbaik. Aku hanya menyesal mengapa hati ini jatuh terlalu dasar kepadamu. Hingga
aku tidak memperdulikan ocehan nasehat-nasehat teman-temanku.
Ada
satu yang aku mengerti, kadang kita dengan sengaja menunggunya berharap ia akan
mengerti perasaan kita. Namun kenyataannya tidak sama sekali. Hanya membuang
waktu dan energy saja.
Mungkin
saat kau melihat tulisan ini di facebook dan blogku. Dari awal menceritakan
kesedihan, patah hati yang aku rasakan. Tulisan ini menceitakan tentang
perasaabku kepadamu. seolah-olah, aku sangat mencintaimu walaupun kita belum
bertemu. Kau terlihat hebat di cerita ini. Membuat wanita sepertiku mencintaimu
tulus. Kau tak salah beranggapan seperti itu, memnag kenyataannya seperti itu. Namun
bukan berarti aku selalu terlarut dalam kesedihan ini. aku masih bisa tersenyum
di dekat sahabat, keluarga dan teman-teman kampusku. Dan aku hanya memilih
mengenangmu dalam sebuah tulisan mini dalam memo handponeku.
Setelah
semua ini berakhir, aku akan kembali seperti wanita-wanita yang lain. merasakan
jatuh cinta kembali. Menikmati masa-masa kesendirian, kesedihan, patah hati
bahkan bertemu dengan Nobita yang baru. Belajar memahami lagi, memulai dari
awal lagi, membiarkan perasaan aneh tumbuh dan berkembang lagi. Namun sebagai
wanita yang pernah mencintaimu, masih saja membuatku merasakan sedikit rasa
trauma yang membekas dalam hati.
Dan
pada akhirnya, aku mensyukuri apapun yang terjadi hari ini. Buruk, baik,
sukacita, dukacita tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Ya, walaupun pada
akhirnya yang kamu perjuangkan begitu keras tidak pernah meresponmu balik. Namun,
lakukanlah yang terbaik. Tuhan selalu meyediakan yg terbaik.