Sabtu, 16 Juli 2016

BUKAN PERBEDAAN YANG MERUMITKAN. TETAPI MANUSIA YANG MERUMITKAN




"Mungkin dia bosan. Mungkin dia jenuh. Mungkin dia muak melihat tingkahku yang kekanak-kanakan“.

Manja, pemarah, tidak sabaran, keras kepala, mudah menangis, sesitif, kepo dan menarik kesimpulan sendiri tanpa mendengarkan penjelasan darinya. Berulang kali ia menjelaskan seperti ini itu kepadaku, berulang kali ia melarang ku begini dan begitu. Tetapi semua itu aku rasa sia-sia baginya. Sifatku masih sama walaupun menurutku sendiri ada beberapa dari sifatku yang sudah mulai berkurang.

Aku bukan pacarnya. Aku juga bukan gebetannya apalagi orang teristimewanya. Aku hanya temannya. Teman 1 tahun yang lalu, dan entah apakah sekarang status itu berubah menjadi lebih baik, lebih buruh atau tidak sama sekali berubah. Hubungan kami saat ini memang tidak ada kejelasan. Apakah teman ? apakah sahabat ? apakah orang yang teristimewa atau bahkan orang yang tidak penting.

Makin hari hubungan kami makin jauh. Semenjak aku mengatakan bahwa aku menyukainya. Mungkin  ini salah ku yang telat menyadari bahwa dahulu dia yang selalu menjadi teman curhatku, perhatian denganku dan perlahan merubah sifatku demi kebaikanku. Aku malah menyukai orang lain, yaitu temannya sendiri yang sebenarnya aku belum terlalu dalam mengenalnya. Sekali lagi aku katakan ini salahku. Menyesalkah ? Ya! Aku sama sekali menyesalinya.

Sebelum aku mengambil keputusan bahwa aku memang menyukainya. Aku memikirkannya matang-matang. Mengapa seperti itu ? Alasannya karena kami berbeda suku. Dalam suku ku, kaum wanita diharuskan menikah dengan sesama satu suku. Itulah yang diceritakan nenekku (opung). Maka dari itu aku lebih menyukai pria yang sesama suku denganku.  Tetapi lambat laut penyataan itu mulai memudarkan keyakinanku ketika aku jatuh cinta dengan seorang pria dari sebrang sana. Sebelumnya butuh perjuangan untuk menyakinkan diriku untuk jatuh cinta bahkan menyukainya. Cukup lama aku meyakinkan diriku sampai sempat aku berkata dalam hati ku sendiri “ Sudahlah, ngapain sih suka sama orang yang beda suku sama mu. Ga akan enak, ga akan seru, pengetahuan budaya tentang budaya mu  sendiri tidak akan bertambah jika kamu memilih dia “. Sudah cukup sering kalimat itu muncul sampai mengangguku. Tetapi hati tidak bisa berbohong, sepertinya aku mulai jatuh cinta dengannya.

Pada akhirnya, aku membiarkan hatiku yang memimpin langkahku ini. Aku mulai membuka hatiku untuknya. Membiarkan hatiku menerimanya sampai pada akhirnya kekecewaan yang aku terima. Mungkin bagi banyak orang kekecewaan adalah hal yang menyakitkan sebelum masuk dalam fase patah hati. Namun bagiku, kekecewaan adalah resikoku apalagi aku sempat melihat dia dengan dengan teman wanitanya. Tetapi, aku memilih untuk memendamnya. Meskipun aku tahu, akan ada hati yang tersayat.

Kemudian dari mulai kecewa itulah sikapku berubah. Aku sadar sikapku lebih temperamen, egois, sensitive dan sering menangis. Mungkin rasa kecewa itu sudah memenuhi sudut demi sudut ruang hatiku. Tetapi, saat mulai kembali chatting dengannya ibaratkan sebuah warna biru langit dan merah jambu (pink). Menyejukan, membuat selalu tersenyum, lucu, lucu dan membuat aku lupa bahwa aku punya rasa kecewa dengannya. Aku sangat menikmati obrolan setiap topic yang kami bahas. Seperti layaknya teman, kami saling terbuka satu dengan yang lain.

Sampai pada akhirnya, aku melihat 1 komentar yang membuatku amat sangat mengecewakan. Ia mengatakan padaku bahwa teman wanitanya adalah saudaranya. Tetapi, berbeda dengan 1 komentar postingan tersebut. Aku tidak mau terburu-buru mengambil kesimpulan dari komentarnya tersebut yang ditandai ke media social wanita itu. Aku berusaha menanyakan beberapa teman yang aku coba untuk menapsirkan komentar tersebut dan merekapun mempunyai persepsi yang sama denganku. Disitulah aku pasrah tetapi tidak menyerah. Aku sabar menunggu, sabar menghadapi segala sikapnya dan sabar juga menyikapi omongan teman-teman yang tidak menyukai aku bergalau karenanya. Tetapi aku tetap berusaha untuk bersabar sampai Tuhan memberikan jawaban yang tempat untukku.

*****
Hari itu entah hari apa, yang jelas hari yang tidak ku duga sama sekali. Kami memang sedang chattingan seperti biasa pada saat itu, kemudian ia berkata “aku kagum dengan usahamu. Aku sepertinya luluh”. WOW menurutku itu kemajuan yang luar biasa. Dalam hati berkata “ akhirnya ini orang luluh juga sama gue”. Tetapi baru saja aku menikmati kesenangan itu, dia langsung berkata kembali “ luluh bukan karena aku sudah punya perasaan sama kamu. Maksudku luluh karena perjuanganmu “. Seketika hati ini rasanya pecah. Ternyata persepsi luluh menurut dia adalah perjuanganku, padahal aku sama sekali tidak berjuang tapi aku hanya berusaha saja semampuku. Toh aku hanya membutuhkan kesabaran saja. Kembalilah aku kecewa dan peristiwa ini yang tidak bisa aku lupakan.

Semenjak hari itu semakin hari semakin menambah rasa sayang samanya juga semakin menambah pula rasa kecewa dan patah hati kepadanya. Mungkin sebagian ini karena salahku yang terlalu berharap dan terlalu sayang dengan seseorang yang sudah membuatku nyaman 4 bulan yang lalu. Hari semakin berlalu namun perasaan ini masih sama. Tidak ada yang berubah. Masih tetapi berusaha sabar menunggu maunya dia walapun aku merasa seperti layangan yang sedang dimainkan oleh anak-anak. Ditarik dan diulur dan seterusnya. Semakin bertambah perasaan ini semakin aku merindukannya. Merindukan hal-hal yang biasa aku dan dia lakukan. Tertawa bersama, marah-marah, salah paham seperti halnya orang pacaran padahal kami tidak pacaran.

Harus aku akui, memang beberapa kenyataan bahwa tidak semua yang diharapkan sejalan dengan yang kita mau. Kamu yang mengalah dengan sejuta harapan kepadanya atau dia yang mengalah dengan sejuta harapan aku. Ya tentu aku memilih aku yang mengalah. Aku yang jatuh cinta terlambat kalau aku tidak jatuh cinta terlambat mungkin aku tidak akan merasakan perasaan seperti ini atau jika aku jatuh cinta pertama kali kita dijodohkan oleh teman kita, aku tidak akan belajar untuk menunggu seseorang, bersabar dan tentu menahan rasa kecewa ini.

Terkadang memang ada seseorang yang mencoba mendekatiku, bahkan dia satu suku denganku. Kadang juga dia membuatku jatuh cinta dan hampir lupa dengan orang yang aku sayangi sekarang. Di satu sisi aku ingin mencoba membuka hati untuk orang yang baru tetapi aku juga tidak ingin melepaskan orang yang aku sayang. Namun itu terkesan rakus, serakah dan seperti membutuhkan kasih sayang. Aku tak mau mendapatkan kesan seperti itu dan aku memilih untuk tetap menunggu orang yang aku sayang ini menjawab perasaannya kepadaku.

Dia pernah mengatakan bahwa kamu takut jatuh cinta ? alasannya karena dia pernah beberapa kali merasa tersakiti oleh seorang wanita. Dan pada akhirnya dia takut untuk membuka hatinya, meyakinkan dirinya berkali-kali sampai dia lupa bahwa ada seorang wanita yang menunggu dan merasa tersakiti karena sikapnya. Dan bisa saja perilaku ini yang membuat aku juga takut untuk jatuh cinta lagi. Kalaupun aku boleh bercerita sedikit, akupun pernah mengantungkan harapan ku pada seseorang. Sebelum pada akhirnya aku harus menerima kenyataan bahwa berharap terlalu tinggi akan membutmu terluka terlalu dalam. Lukanya sampai saat inipun masih membekas. Memang tidak terlihat dan tidak berdarah tetapi menyakitkan sekali.

Mungkin kamu merasa jengkel, menyebalkan kepada diriku saat kamu melihat status facebook, bbm hampir semua tentang patah hatinya, sakit hatinya dan galaunya aku sama kamu. Dan pasti kamu berpikir bahwa aku adalah orang yang tidak bisa menulis sedikitpun tentang kegalauan diriku. Mungkin kamu benar. Aku memang masih sering menulis kegalauan-kegalauan gilaku walaupun ga semuanya tentang kegalauanku tentang kamu. Aku senang melakukan hal tersebut. Mencurahkan perasaan ku di media social (facebook, instagram, bbm) walaupun mungkin aka nada yang tidak menyukai itu termasuk kamu.

Dan kamu tau, harapanku sekarang adalah kembali seperti dulu. Chatting denganmu hampir setiap hari dan kamu tidak perlu secuek ini terhadapku. Aku hanya lelah menunggu balasan chatting yang sudah kutunggu-tunggu sampai ke hari esokpun kau tidak membalasnya dan akupun lelah menangis setiap malam hanya karena sikapmu yang terlalu dingin denganku. Aku harap Tuhan menjawab sesegera mungkin doa yang aku panjatkan setiap malam.

Bersambung --.