Sabtu, 04 Juli 2015

Cinta Tanpa Pertemuan

Seorang pria dewasa yang memiliki kepribadian menarik sehingga dapat memikat kaum wanita untuk mendekatinya. Sebut saja dia, Nobita. Aku senang memanggilnya Nobita sebab penampilannya seperti Tokoh kartun Jepang dalam serial Doraemon. Dengan kacamata, baik, sopan dan menghargai wanita. Menurutku itu panggilan kesayanganku kepadanya walaupun kami tidak terkait hubungan apapun. Namun, aku menyayanginya.

            Suatu sore itu, aku galau. Ya, galau karena putus dengan pacarku, Ezer. Aku dengannya memang seringkali bersilih paham. Entah karena hal-hal kecil ataupun hal-hal yang menurut aku tidak perlu di besarkan. Aku dengannya mempunyai watak yang sama-sama keras kepala, kasar dan juga memiliki keegoisan yang sangat tinggi. Mungkin, itu sebabnya kami memilih untuk berpisah.

            Ketika fase dimana galau itu melanda, aku selalu menyempatkan diriku untuk memposting kesedihanku di dunia maya. Tulisku, “ Hiduplah berbahagia dengan pasanganmu disana, sayang. Aku disini mendoakan kebaikanmu walaupun perih “. Bagiku, dunia maya adalah teman yang baik. Baik untuk mengeluarkan emosi, kesedihan, kedongkolan dari dalam hati. Aku tak memperdulikan orang yang berteman denganku di dunia maya. Entah mereka merasakan risih  dengan postinganku ataupun merasa ilfeel melihatku. Aku tidak perduli sama sekali. Yang jelas, saat aku memposting hal-hal yang keluar dari dalam hati atau bisa di bilang unek-unek dan itu membuatku merasa lega. Menurutku, itu lebih baik dari pada aku harus meluapkan emosiku kepada orang-orang di sekitarku.

            Empat orang menyukai postinganku di media social, tiba-tiba satu orang berkomentar di statusku “ sudah, jangan galau terus “. Aku melirik namanya, dia Nael yang sekarang aku sebut dngan Nobita.  Kemudian aku klik nama yang tertera dalam kolom komentar statusku. Aku lirik foto profil tersebut. Ya, aku ingat. Ia adalah teman dari mantanku (bukan Ezer). Nael adalah teman mantanku sebelum aku berpacaran dengan Ezer. Sepengetahuanku dia sudah mempunyai pacar. Namun saat aku lirik status hubungannya ternyata “lajang”. Kepoku berhenti sampai disitu. Masih belum ada rasa ketertarikan saat itu.

            Beberapa hari sesudah kejadian itu, kami seringkali saling ber komentar, chattingan, bercerita tentang masa lalu masing-masing, sharing, bertanya. Hingga pada akhirnya, hatiku dibuat jatuh olehnya.

            Ada perasaan aneh yang masuk ke dalam hati. Aku tak lagi memikirkan Ezer, mantanku itu. Sering kali aku memikirkan Nael (Nobita). Aku merasa ada perasaan berbeda bahkan seringkali mamaku mempergokiku tengah senyum-senyum di depan cermin kamarku. Ya, namanya juga jatuh cinta. Apapun bisa di lakukan ketika sedang jatuh cinta.

            Tanpa aku sadari, makin hari makin bertambah rasa itu kepadanya. Entah darimana asal rasa itu datang. Entah sejak kapan rasa itu bertambah dan entah sejak kapan rasa itu berubah menjadi sayang. Kali ini bukan suka yang aku rasakan akan tetapi rasa sayang yang aku rasakan.

            Seperti pada judul ceritaku, aku dan nael tak pernah bertemu. Kami hanya di pertemukan di salah satu media social. Tanpa disengaja. Aku tahu, aku yang memulai jatuh cinta, bukan dirinya. Dan aku paham betul aku yang memiliki perasaan ini terlebih dahulu dan sekarang aku yang harus berjuang untuk memikat hatinya tanpa harus memperdulikan hatiku yang mungkin pada saat itulah awal mulanya aku berharap (lebih).

            Seperti pada umumnya orang-orang jatuh cinta. Aku sering memperhatikannya walaupun hanya lewat social media, melirik social medianya hanya untuk hiburan ketika aku mulai merindukannya. Memberi semangat kecil sekadarnya. Walaupun, aku tahu banyak sekali wanita sepertiku yang selalu menyemangatimu. Aku hanya bisa seperti itu, hanya bisa menyemangatimu dari handphoneku, merangkai kata-kata untuk membuat dirimu selalu bersemangat tanpa ada kata lelah dan menyerah. Sejujurnya, aku pasti kalah bersanding dengan wanita-wanita yang berada disekitarmu. Mereka bisa melakukan lebih dari apa yang aku lakukan. Mungkin bahkan lebih berkesan di bandingkan apa yang aku lakukan. Aku hanya ingin kau tau ada seseorang yang ingin kau lirik sepenuh hati saat itu juga.

Menstalking media sosialmu adalah hobi ku setiap di sela-sela kesibukan kuliahku. Aku kepo dengan apa yang kamu lakukan setiap hari, foto-fotomu bersama teman-temanmu, bahkan terkadang aku merasa ikut bahagia ketika melihat fotomu tersenyum. Ya, aku akui senyumanmu yang membuat aku bisa merasakan jatuh cinta. Aku tak mampu menjelaskan bagaimana senyumanmu. Yang membuatku merasa aneh adalah itu senyuman hanya di sebuah foto. Di foto saja kamu bisa membuatku jatuh cinta apalagi ketika kita di takdirkan oleh Tuhan untuk bertemu ?. Meskipun sejujurnya, aku ingin berada di sampingmu memberi perhatian khusus seperti orang pacaran walaupun kenyataannya sulit.

Tidak luput, aku selalu mendoakanmu setiap menjelang tidurku. Di tengah-tengah doa tidur yang aku panjatkan untuk sanak saudara, kerabat, teman dan orang tua. Aku selalu menyelipkan namamu dalam doaku. Apapun yang aku doakan yang terbaik untuk dirimu. Kelak, jika Tuhan menjawab doaku untuk bertemu denganmu dan menjalin suatu hubungan, aku tak akan pernah menyesal sekalipun telah berdoa, berusaha dan berjuang untuk dirimu. Tolonglah, biarkan rinduku aku sampaikan. Bukan untuk memaksamu merindukanku kembali. Aku hanya ingin mencintaimu tulus tanpa pernah memaksamu untuk membalasnya kembali. Karena bagiku, cinta bukan paksaan tapi cinta datang tanpa paksaan.

Aku mulai jatuh cinta saat kau mengeluarkan kata-kata bijakmu kepadaku. Menasehatiku seperti betapa kau perduli denganku, menasehatiku seperti betapa kau membuatku bangkit dari rasa galauku, menasehatiku seperti betapa kau meyakinkanku semua akan baik-baik saja.

Ibarat seperti wanita yang sedang menjalankann wisudanya di hari bagianya lalu datang seorang pria yang memberikan mawar merah, merah muda dan putih. Begitulah perasaan saat aku memulai pembicaraan melalui obrolan di facebook ataupun BBM denganmu. Ada rasa senang, bahagia, ketagihan chattingan saat itu. Bahkan jikalau perlu sampai pagi chattingan denganmu. Gimana bisa sebahagia itu ?. Ya, kamu pasti akan merasakan seperti ini saat aku bertemu dengan idolamu. Sangat antusias, gembira, senang dan bahagia. Jika disuruh untuk menjelaskan dimana letak bahagia itu ? mungkin sebagian besar akan menjawab “nggak tau” atau menjawab “ya bahagialah, orang ketemu idol gue banget”. Sama halnya diriku yang bahagia walaupun hanya chattingan saja.

Ketika kau memulai untuk membalas pesan seseorang yang kau cintai, mungkin saja kau akan merangkai kalimat yang tepat bahkan membaca berulang kali isi balasanyang ingin kau kirim. Bagi orang yang sedang jatuh cinta yang penting adalah bagaimana bisa mempertahankan chattingan tersebut sampai lama bahkan bisa bersambung keesokan harinya.

Menunggu balesanmu adalah hal yang sering aku takutkan. Ya, aku takut hanya di baca saja tanpa mau membalas, aku takut pesanku yang mungkin melukai hatimu ataupun aku takut ketika aku menganggu kau yang sedang bergelut dengan tugas kuliahmu. Sebenarnya, tak perlu perasaan selebay ini di permasalahkan atau di takuti. Yang namanya proses jatuh cinta itu ya seperti ini. agak sulit untuk di mengerti namun kenyataannya begini.

Orang yang jatuh cinta selalu dapat membuat sifat seseorang berubah secara mendadak. Temanku yang berpenampilan ga karuan sekarang telihat rapih semenjak ia jatuh cinta. Temanku yang sering berbicara seperti ingin memakan orang dengan nada suara 3 oktaf, berubah menjadi lemah-lembut dan anggun semenjak ia jatuh cinta juga. Namun, ini tidak berlaku samaku. Aku biasa aja. Berubah sekalipun kaya wonder women atau pahlawan bertopeng pun tidak akan pernah dia perdulikan. Secantik apapun aku memfoto diriku dengan kamera 360 atau B612 hanya sekali saja dia merespon “manis kali”. Sesudah itu mana ada komentar darinya. Inilah resiko menyukai pria cuek, dewasa dan berwibawa sekali.

Aku selalu mengeluh, sebenarnya ada apa dengan perasaanku ?. Temanku sering bertanya padaku “ Loh, kok bisa sih suka sama orang yang belum pernah ketemu ?. apa sih yang kamu suka dari dia kan belum pernah ketemu “. Alasanku selalu berkata “ Aku nyaman ketika berbicara dengannya “. Akan tetapi, aku pikirkan kembali apakah memang aku nyaman ataukah aku terbawa oleh perasaan. Kata orang gahol itu namanya baper. Ini masih misterius dan belum dapat aku pecahkan sampai sekarang.

Setiap malam aku selalu memikirkan dirinya. Dahulu yang sering kali chattingan hingga pukul 02.00 pagi. Sekarang ?? aku tidur lebih cepat, melihat handphone tidak ada satupun chattingan dari dirinya. Aku teringat, setiap kau mengeluh sakit di dalam status media sosialmu. Aku sangat antusias memperhatikanmu dari mulai hal yang terkecil. Mengingatkanmu untuk mengurangi merokok demi kesehatanmu. Khawatir ketika kau mengeluh sakit hebat. Seharusnya aku yang merawatmu, memanjakanmu di sampingmu tetapi aku hanya bayangan dunia maya saja.

Tengah malam itu hujan mendadak turun dengan cepat. Membasahi tanah sekitar halaman. Saat itu aku dan dia sedang chattingan. Rupanya, dia mengetahui jikalau aku menyukainya. Ya, aku yang selalu bermain kode kepada seseorang yang aku sukai ternyata telah sampai kepadanya. Waktu itu kami ngobrol agak lama, sampailah pada satu pesan dirinya yang bertanya,
“ mik, kau menyukaiku ?”.Tanyanya
“ apa ? ah tidak. Itu tidak “. Jawabku
“ sudahlah jangan di sembunyikan. Aku mengetahuinya kok “. Ucapnya
“ hehe, nggak kok. aku nggak menyukaimu “ sangkalku
“ ohh begitu ? yakin nih ? sudah tidak apa-apa kok kalo kau menyukaiku” desaknya
“ hmm, ya aku jujur. Aku menyukaimu, nael “ ucapku
“ kau wanita yg baik, polos, sedikit tomboy. Seharusnya kamu mencari pria yang berada disekitarmu dahulu. Aku tak sebaik yang kau pikirkan “ jawabnya
“ ohh begitu. Ya sudah. Maaf “.

Disitulah terakhir hubungan kami baik-baik saja. Setelah peristiwa itu, semua terasa berbeda. Sampai akhirnya aku mengatakan bahwa “aku mengasihinya tulus”. Aku tak perduli latarbelakang keluarganya yang mampu atau tidak mapun atau yang lainnya. Yang ada dalam pikiranku adalah “ aku mengasihinya tulus “. Mungkin, yang menjadi kendala adalah sebuah kata “pertemuan”. Hanya aku saja mungkin yang merasakan atau berpendapat cinta dapat tumbuh walaupun tanpa pertemuan. Aku mengerti cara berpikir dia, karena lelaki memang lebih memilih untuk memakai logika di banding perasaannya.

Namun, tiba-tiba ada hal yang membuatku tersadar. Alasan yang selalu aku utarakan kepada teman-temanku soal “nyaman” sekarang tidaklah nyaman. Bagaimana bisa terjadi ?. Aku bahkan tidak mengetahui hal itu bisa berubah secepat mungkin ketika dia hanya mengganggapku sebagai adiknya. Besar harapanku untuk bersamnya seketika retak. Aku jatuh pada seseorang yang hanya menganggapku sebagai adik. Dan mungkin tidak akan pernah lebih.

Yang dalam pikiranku sekarang. Apakah aku salah ? siapa yang salah sebenarnya ? aku atau perasaan ini ? apakah ada cinta yang salah ? apakah cinta pantut untuk di salahkan ? lantas, kenapa ada kisah seperti ini ? pada saat kita mengharapkan sesuatu yang lebih dari seseorang yang kita cintai namun tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan.

Pada saat seperti ini. aku ingin sekali dapat memilih. Bertahan dan terus berjuang untuk mendapatkan cintamu atau pergi meninggalkan rasa yang pernah ada. Aku tahu, ini adalah hal yang harus aku pilih walaupun sulit. Namun, mencintaimu bukan suatu yang patut aku salahkan. Mungkin saja cinta kali ini datang dengan scenario Tuhan yang lebih menarik. Ya lebih menarik dan menguji kesabaran dan menguras air mata. Memilih untuk sanggup bertahan walaupun salah satunya akan tersakiti atau pergi meninggalkan kisah ini sampai disini dan memulai kisah baru. Namun, saat aku memilih untuk memutuskan hal-hal tersebut. Aku harus memahami dan mempastikan diriku tidak menyesal atas pilihan tersebut.

Soal mencintaimu adalah pilihan yang mempunyai resiko yang besar. Aku paham sekali bagaimana hatiku berkerja memulihkan semua keadaan. Kata orang  “cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu yang terus berjalan”. Terkadang dampaknya bisa baik ataupun sebaliknya memperburuk keadaan yang semulanya baik-baik saja.

Maafkan jika aku selalu membuatmu pusing akan perasaanku ini. Namun ketika aku tahu kau mulai jatuh kepada orang lain. Menanyakan kabar orang lain. Semua yang kau lakukan tidak luput dari pusat perhatianku. Meskipun tidak semua status  mu aku perhatikan dengan detail.
Maafkan aku, aku memilih diam untuk saat ini. karena aku ingin mengetahui responmu terharapku ketika aku menghilang. Apakah kau mencariku atau tidak sama sekali. Dan ternyata TIDAK.

Dan suatu saat nanti, aku satu-satunya wanita yang menunggumu menyapaku terlebih dahulu bahkan menunggumu menceritakan seseorang yang kau cintai kepadaku. Meskipun aku merasakan luka yang sama sebelumnya. Ya, setidaknya samapi hatiku berkata “ Aku lelah Tuhan”.

*****

Seperti hari-hari biasanya. Aku menunggu pesan singkat darinya. Masih terus menunggu berharap ia menanyakan keadaanku. Namun, itu hanya sebuah harapan yang tak akan pernah terwujud. Mungkin ini bagian yang tidak menyenangkan. Selalu menunggu tanpa kita tahu hasil akhirnya seperti apa.

Seringkali aku ingin menanyakan kabarnya kembali. Namun, sahabatku yang menjadi teman curhat setiap aku galau selalu berkata “sudalah, mik. Kau masih saja mengharapkan dia. Lupakan! Dia bukan pria yang baik untukmu. Jika dia pria yg baik bahkan mencintaimu juga, dia tidak akan membuatmu menunggu akan hal yg tak pasti ataupun membuatmu bersedih seperti ini”. Apa yang sahabatku katakan memang benar. Semua benar. Akan tetapi, hati ini yang bersikeras untuk tetap bertahan. Kadang terlintas dalam benakku, aku ingin bebas dari bayangnya, tetapi hati ini seakan mematahkan ucapan itu lalu memutar balikannya kembali.

“aku lelah Tuhan. Ya, sangat lelah dengan perasaan ini. Semakin hari, semakin lelah hati ini untuk menunggu. Kapan Tuhan aku bisa melepas utuh rasa ini?”. Itu yang selalu aku ucapkan ketika aku lelah berjuang.

Aku lelah terus berpura-pura tersenyum dihadapanmu hanya karena ingin menunjukan aku wanita yang dewasa. Bukan wanita yang cengeng dan manja. Aku pikir, setelah aku putus dengan Ezer, aku akan lebih baik. Namun kenyataannya ? aku memang sudah lebih baik sebelum aku menyimpan rasa terhadapnya.

Sesekali aku merenung. Apa yang sudah dia perbuat sehingga aku bisa seperti ini. Jatuh cinta sejatuh-jatuhnya kepadanya. Bahkan tanpa bertemu. Mungkin aku wanita yang bodoh, dapat menaruh hati kesembarangan pria yang akhirnya menyakitiku.

Diam-diam aku menjadi tidak tahu malu. Bahkan melakukan hal yang menurut para wanita paling gengsi. “aku menyatakan perasaanku terhandanya”. Mungkin bagi sebagian wanita yang mengalami peristiwa sepertiku ini hal yang tidak memalukan. Namun, sebagian wanita lainnya pernyataan seperti ity seperti wanita yang tidak tahu malu bahkan dipandang sebelah mata. Toh juga wanita punya hak untuk menyatakan perasannya, bukan?. Ini bukan masalah lebih dulu siapa yang menyatakan perasaan. Namun, ini masalah perasaan yang sama sensitifnya seperti bokong bayi. Tanpa aku sadari, aku tengah memaksamu untuk mencintaiku dengan cara mengirim atau membuat postingan tentang dirimu, berasa seperti aku wanita yang paling mencintaimu sekaligus menyakitiku. Aku seolah lupa bahwa cinta bukan soal paksaan, akan tetapi soal saling mengasihi. Hingga saat ini, apakah aku sanggup membiarkan hatiku luka kembali. Lalu, mungkin akan bahagia atau tidak bahagia sama sekali.

Ada yang benar-benar aku pahami, penting bagiku untuk saling mengintropeksi diri tentang proses perjalanan cintaku selama ini, apakah sudah berjalan lebih baik atau sama seperti sebelum-sebelumnya.

Maaf untuk perasaan yang aku biarkan perlahan memudar. Aku ingin lari dari luka pedih ini. Juga untuk kita yg belum sempat Tuhan pertemukan. Aku memilih untk membiarkan rasa ini pudar bukan karena cinta ini sudah habis. Namun, demi luka yang ingin aku obati secara perlahan.

Aku akan belajar melepaskan apa yang sebenarnya tak semudah yang dipikirkan. Namun, cinta perihal soal hati; bertahan dalam kesendirian yang sama sekali tidak pernah kau tawari aku kebahagiaan bahkan kesempatan untuk membahagiakanmu.

Mengumpulkan keberanian untuk pergi dari duniamu adalah bukan hal yang mudah. Selalu ada hati yang siap patah untuk saat itu. Berhenti menstlakingfacebook, twitter , status bbm mu adalah hal tersulit bagiku. Berhentimerindukanmu setiap malam. Berhenti mencari tahu tentang dirimu.

Mungkin, jikalau tiba-tiba kau menyadari rasa ini tidak lagi sama seperti dulu kala. Jangan salahkan aku. Aku sengaja mengabaikannya bahkan membunuhnya secepat mungkin. Karena aku pikir tak ada lagi gunanya terus menunggu dan bertahan dengan seseorang yang sama sekali tidak mengharapkanku untuk menghuni hatimu. Buanglah, buanglah rasa itu sejauh mungkin. Biarkan rasa itu benar-benar punah seiring waktu yang terus berjalan. Aku tidak akan menyesali keputusanku karena menurutku ini yang terbaik. Aku hanya menyesal mengapa hati ini jatuh terlalu dasar kepadamu. Hingga aku tidak memperdulikan ocehan nasehat-nasehat teman-temanku.

Ada satu yang aku mengerti, kadang kita dengan sengaja menunggunya berharap ia akan mengerti perasaan kita. Namun kenyataannya tidak sama sekali. Hanya membuang waktu dan energy saja.

Mungkin saat kau melihat tulisan ini di facebook dan blogku. Dari awal menceritakan kesedihan, patah hati yang aku rasakan. Tulisan ini menceitakan tentang perasaabku kepadamu. seolah-olah, aku sangat mencintaimu walaupun kita belum bertemu. Kau terlihat hebat di cerita ini. Membuat wanita sepertiku mencintaimu tulus. Kau tak salah beranggapan seperti itu, memnag kenyataannya seperti itu. Namun bukan berarti aku selalu terlarut dalam kesedihan ini. aku masih bisa tersenyum di dekat sahabat, keluarga dan teman-teman kampusku. Dan aku hanya memilih mengenangmu dalam sebuah tulisan mini dalam memo handponeku.

Setelah semua ini berakhir, aku akan kembali seperti wanita-wanita yang lain. merasakan jatuh cinta kembali. Menikmati masa-masa kesendirian, kesedihan, patah hati bahkan bertemu dengan Nobita yang baru. Belajar memahami lagi, memulai dari awal lagi, membiarkan perasaan aneh tumbuh dan berkembang lagi. Namun sebagai wanita yang pernah mencintaimu, masih saja membuatku merasakan sedikit rasa trauma yang membekas dalam hati.

Dan pada akhirnya, aku mensyukuri apapun yang terjadi hari ini. Buruk, baik, sukacita, dukacita tetap mengucap syukur kepada Tuhan. Ya, walaupun pada akhirnya yang kamu perjuangkan begitu keras tidak pernah meresponmu balik. Namun, lakukanlah yang terbaik. Tuhan selalu meyediakan yg terbaik.