“
Huah.. saat pertama kali aku melihatmu,
jantungku berdetak kencang. Denyut nadi seakan-akan terasa mengalir dari dada ini sampai ke
seluruh tubuh. Masih ku ingat saat kau sapa diriku, tak berdaya diriku dibuat
olehmu. Keringat dingin sampai ke telapak tangan ketika diriku berhadapan
denganmu. “
Mimpi
yang selama ini gue nantikan, akhirnya terkabul. Gue jadian dengan orang yang
gue sukai. Jelas, gue suka. Dia itu hitam manis, tinggi, pemain basket dan yang
paling buat gue berasa seperti di pelet adalah senyumnya. Senyumannya ibarat
seperti mantra ajaib yang membuat gue ga bisa berbicara ketika dia senyum. Itulah
gambaran yang bisa gue jelaskan tentang seseorang yang special ini dalam hidup
gue. Dan gue hanya berharap, hanya dia yg pertama dan terakhir dalam hidup gue
hingga semuanya akan indah sampai akhir nanti.
TING
TONG TING TONG ……
Suara
pesan di handpone gue pun berbunyi. Entah siapa yang SMS yang jelas gue
berharap dia. Dan ternyataaa ituu.. bukan dia melainkan operator yang sering
membuat gue kesal dengan sms mempromosikan hal-hal yang menurut gue ga penting
sama sekali dan nggak berpengaruh bagi gue. Gue masih terus berharap. Sekali,
dua kali handphone gue berbunyi ternyata bukan dari dirinya. Terus menatap layar
handphone membuat gue bosan hingga gue lemparkan handphone itu ke kasur. Yang gue
pikirkan saat itu hanya, apakah dia menyukaiku atau dia tidak menyukaiku?. Gue
hanya bermimpi untuk jadi miliknya. Ya, walaupun memang kadang mimpi lebih
indah dari pada kenyataan.
Akhirnya,
karena gue bosen dengan suasana kamar yang begitu-begitu saja tidak berubah gue
memutuskan untuk pergi keluar kamar hanya sekedar melepaskan rasa galau gue
karena tidak di sms oleh dia. Berbincang di sore hari bersama tante dan opung membuat
gue sedikit melupakan rasa galau itu. Setelah satu jam lebih gue ketawa-ketiwi
dengan tante dan opung lalu gue pergi ke kamar bermaksud untuk melihat apakah
ada sms atau tidak. Dan ternyata ada., Ada satu pesan dengan nomer yang tidak
gue kenal berada di kotak masuk handphone gue. Dengan wajah penasaran, gue
membuka pesan kotak masuk itu. Dan ternyata pesan itu dari cowok yang sepecial
buat gue. Namanya Carlos Teguh Anugrah.
“
hai, ini Fanny kan ? “. Sms Carlos.
“
iya, ini siapa ya ? “. Jawab gue.
“
hahaha, mau tahu banget apa mau tahu aja ? “
“
apaan sih lo! Ga usah jail deh. Gue lagi nunggu calon cowok gue sms. So, lo
jangan ganggu-ganggu gue, oke ! GUE SIBUK ! “. Dengan wajah kesal.
“
hmm, sorry deh gue ganggu. Cuman gue mau nanya dong, calon cowok lo siapa ? “
“
yaelah ini orang kepo banget ya. Calon cowok gue itu namanya Carlos Teguh
Anugrah. Lo ga bakalan tau kok orangnya. Lagian lo siapa sih ? kok nanya-nanya, lagian bukan urusan lo kok “
“
ohh, Carlos Teguh Anugrah. J.Gue ini, ya carlos teguh anugrah. Yang tadi
lo bilang gue calon pacar lo, hahaha J “
“
waah, serius? Ini carlos ? maaf-maaf jadi malu L “
Semenjak
sms itulah kami menjadi dekat. Kedekatan kami rupanya terdengar sampai ke telinga
Nita. Nita tidak terima jikalau Carlos menyukai cewek selain Nita. Apa lagi
pada saat itu Gue dan Nita masih sebagai adik kelas carlos. Akhirnya, nita
terbakar api cemburu saat nita mendengar kedekatan gue dan carlos sudah cukup
lama. Nita pun menegor gue dengan berbicara “ Carlos itu suka sama gue tahu. Jadi
lo mending ga usah deketin dia deh “.
Pada saat itulah gue tahu bahwa
cowok yang gue suka di sukai oleh teman gue, Nita. Awalnya gak ada niat untuk
terus melanjutkan rasa suka ini. Namun Carlos yang terus mendekati gue hingga
perasaan ini semakin hari semakin bertambah bukan semakin menghilang.
Kami
masih sering bertemu di gereja, apa lagi saat itu bulan desember. Frekuensi pergi
ke gereja untuk latihan Natal semakin sering sehingga sering bertemu dengan
dirinya. Entah apa yang dia suka dariku namun perjuangannya sangat terlihat di
mataku dan juga teman-temanku. Mulai dari mengambil fotoku secara
sembunyi-sembunyi walaupun akhirnya di ketahui kakak tingkat tertua di atas
kami dan mencari tahu soal hobby dan mengkepoin status facebookku.
Perjuangan
selama satu bulan sudah ia tunjukan.. Perjuangannya pun tidak sia-sia. Ia
menyatakan perasaannya di depan gue. Tepat di malam natal, 24 Desember 2009 lalu.
(
Di SMS )
“
hay fann. Kamu mau gereja kan malam natal ini ? aku jemput ya ? “ nada penuh
semangat
“
gak usah, gue bareng keluarga “ nada datar
“
oh gitu ya, ya sudah selamat bertemu di malam natal “
Malam natal pun sudah datang. Gue dan
sekeluarga pergi ke gereja dengan penuh sukacita. Setibanya di gereja, gue
duduk di tempat biasa setiap minggu gue gereja. Seperti kebiasaan setelah
memasukin gereja. Gue berdoa dan berharap ada kado natal terindah tahun ini
buat gue. Setelah selesai berdoa, gue bermaksud melihat handphone untuk melihat
apakah ada sms dari sobat gue, Okta. Ternyata okta tidak dapat hadir pada malam
natal itu. Dan itu membuat gue sedih sebab dia lah satu-satunya sobat gue yang
selalu gue ceritakan soal carlos.
Acara
ibadah malam natal itu pun berjalan dengan penuh sukacita. Gue mengikuti acara
ibadah tersebut dengan baik tanpa ada kegaduhan sebelum carlos dan sahabatnya
datang mengganggu gue.
“
fan, ikut aku yuk dulu sebentar “. Kata Carlos
“ mau kemana memangnya ? gak lihat masih
dalam acara ibadah ? “ wajah datar gue.
“
(wajah membujuk) sebentar aja fan, sebentar lagi juga acara ibadahnya sudah
selesai kan ? ayolah fann. Sebentaaarrr ajaaaaaa. “
“
iya “. Ketus gue
“
ya sudah, ayo ikut gue. Ini cuman sebentar kok “. Bujuk Carlos.
Akhirnya
gue pun mengikuti permintaan carlos untuk mrngikutinya pergi. Carlos pun menarik
tangan gue untuk segera pergi dari ibadah natal yang sebentar lagi selesai. Carlos
menarikku ke tempat sepi. Gue ga tau apa yang mau di lakukannya. Gue hanya bisa
diam sekaligus senang karena pertama kali itulah tangan gue di genggam oleh
cowok yang special buat gue dan juga sekaligus berpikiran negative soal tempat
yang sepi tersebut.
“
lo dan sahabat lo mau bawa gue kemana ? “ tanya gue
“
sudah, jangan banyak tanya sih. Ikuti saja “ Jawab sahabat carlos
Gue
hanya bisa diam dan mengikuti jejak langkah kaki mereka berdua sambil berpikir
semoga Tuhan melindungi gue dari mereka berdua ini.
Akhirnya,
sampailah pada tempat yang sudah mereka siapkan. Tidak so sweet seperti pos
kamling namun bukan pos kamling lebih tepatnya seperti tempat duduk biasa namun
ada atap yang menutupinya dan hanya ada bangku dan atap. Tiba-tiba carlos
berdiri di hadapanku dan memegang kedua tanganku.
“
(wajah gugup) fan, gue mau jujur. Dari pertama gue lihat kamu di gereja, lo beda
dari pada cewek yang lain. Lo sederhana fan. “ ucap Carlos
“(wajah kaget ) apa ? terus ? “
“gue suka lo dan lo mau gak jadi pacar
gue ? “ ucap Carlos
“ ( wajah kaget ) hah ? lo nembak gue ?
“
“ ( wajah memerah ) iyaa, lo mau gak ? “
tanya Carlos
“ sudah terima saja fan “ kata sahabat
carlos
“
( wajah malu ) hmmmm, gimana ya ? hmm, iya deh “ jawab gue sambil senyum malu.
“ (dengan wajah senang ) serius fan ? jadi
kita jadian? hahaha “
“
( wajah malu ) iyaa “
“
( sambil peluk Carlos ) widih, selamat ya bro sudah jadian. ciye ciye “ ejek
sahabat carlos
“ ( senyum keliatan gigi sedikit )
hihihi “ senyum gue dan allo.
Beberapa
saat setelah itu, kami kembali ke gereja untuk melanjutkan ibadah natal. Saat gue
memutuskan untuk menerima carlos menjadi pacar gue, pasti ada seseorang yang
merasa tersakiti. Namun hidup itu untuk memilih. Gue lebih memilih jadian
dengan carlos walaupun pada saat itu gue ga mau menyakiti teman yg menyukainya.
Seperti
pada pasangan biasanya, kami jalan bersama, makan bersama, ikut kegiatan gerejawi
bersama dan terkadang carlos juga suka jemput gue pulang sekolah. Ya seperti
itulah kegiatan kami selama kami berstatus pacaran.
Satu
sampai enam bulan. Kami masih terlihat mesra dan jalan bareng tanpa ada yang
namanya pertengkaran. Masuk di usia pacaran kita ke satu tahu, di situlah
kadang pertengkaran itu terjadi. Mulai dari lama bales sms dan lain-lain. Di usia
satu tahun enam bulan, kemesraan itu semakin hari semakin sedikit yang gue
rasakan. Sampai usia pacaran kami dua tahun, pertengkaran dalam hubungan kami semakin
menjadi-jadi hingga pada akhirnya salah satu dari kami meminta putus hanya
karena ada Hello Kitty diantara hubungan gue dan carlos.
(
di telepon )
“
carlos, kenapa sih lo berubah ? “ tanya gue
“
berubah apaan ? lo aja kali ah !. Sudahlah gue lagi males ngomong sama lo “.
Ketus Carlos
“
loh kenapa sih ? aneh deh gue sama lo”
“
sudah ah. Jangan cerewet. Lo ga usah telepon gue lagi !! ngerti ?? “ ketus
Carlos
“
( sambil nangis ) loh kok gitu ? apa alasannya ? “
“
rewel lo ! kalo lo masih telepon atau sms lagi !! kita putus !! “. Telepon di
tutup.
“
( menangis histeris ) “
Keesokan
harinya, setelah pertengkaran malam yang hebat tersebut. Pada pagi hari sekitar
pukul 07.00 WIB, handphone gue berbunyi dan mendapatkan nomer telepon baru yang
ada dalam kontak masuk. Dengan mata masih bengkak dan sembab, gue mencoba
membuka sms itu ternyata nomer baru dan ternyata nomer itu adalah carlos.
“ 0822178011XX - Fan,
kita putus. Gue mau focus sekolah dulu “
Saat
membaca sms itulah hati gue hancur. Hanya bisa menangis melihat cowok yang gue
sayang mengakhiri hubungan yang sudah di bangun 2 tahun tersebut dengan kata “
gue mau focus sekolah dulu “. Padahal saat gue lihat status terakhir dia di
facebook, dia menulis :
“ Carlos
Teguh Anugrah -Hmmm, rasa nya aku sudah bosan dengan yang lama. Pengen cari
yang baru saja.
Dan
mau tidak mau. Akhirnya gue dan carlospun putus pada tanggal 03 januari 2011. Gue
berusaha move on. Selama 4 tahun sampai sekarang, gue masih belum bisa move on
dengan dirinya. Terlalu sayang, telalu cinta itulah alasan kenapa gue masih
bisa betahan dan berharap balikan lagi dan menjadi yg terakhir dalam hidup gue. Namun sayangnya, itu
hanya sebuah mimpi. Dia sudah mempunyai kekasih. Kadang gue ingin memutar
kembali waktu. Tapi gue tahu, itu sudah tidak mungkin. Hal yang sekarang dapat
gue lakukan hanyalah menerima kenyataan yang sudah ada.
Selama
4 tahun itulah gue hanya bisa stalking facebooknya. Tanpa chatting dan tanpa
komentar apapun. Gue hanya bisa melihat hasil foto-foto mereka berdua di
facebook. Pegangan tangan, jalan mesra, makan bersama seperti saat gue bersama
dirinya dahulu. Andai cewek itu adalah gue dan andai dia tahu ada seorang cewek
yang tulus mencintai dirinya dan masih berharap untuk dirinya kembali.
Gue
memang membencinya dan amat sangat membencinya namun cinta yang dulu pernah gue
rasakan dan gue berikan dapat meluluhkan rasa benci dalam hati gue.
Tiga
bulan setelah ulang tahunnya, gue berpikir cukup lama gue berdiam diri untuk
menyembunyikan perasaan ini. Akhirnya gue mencoba menjalin komunikasi yang baik
dengannya walaupun gue tahu dia sudah mempunyai kekasih yaitu Ria. Bukan bermaksud
untuk merusak hubungan dia dengan ceweknya namun gue hanya rindu. Rindu
masa-sama dimana gue sering bercanda dengannya. Tetapi, baru saja chatting
dengan dia satu hari yang lalu. Ceweknya sudah di bakar api cemburu.
“
hey, lo ngapain sih chatting sama cowok orang ? “. Kata Ria.
“
Maaf ya ! gue cuman nanya tentang saudara gue kok. Tenang aja kali gue ga akan
ganggu hubungan kalian J “ Jawab tegas gue.
Pesan
terakhir gue tidak di balas oleh ria. Kemudian gue memberitahu jikalau
chattingan gue dengan ria ke carlos.
“ carlos, cewek lo kenapa sih ? ngeselin
banget deh. Masa iya dia tegor gue cuman gara-gara gue chat smaa lo. Emang gue
salah apa ? Gangguin hubungan lo aja gue ga pernah tuh. Ngeselin banget sih
cewek lo !! “
“
Haduh, kenapa sih dengan lo ? kenapa selalu lo ? lo cuekin aja napa sih ? ga
usah di ladenin. Ya kalo memangnya menurut lo dia salah ngomong begitu, sudah
gue minta maaf. Dan sekang lo ga usah nongol-nongol lagi dalam hidup gue “.
“
Ya ampun carlos, bukan itu maksud gue. Oke kalo begitu, lo juga ga usah
nongol-nongol dalam hidup gue juga “.
Akhinya
rasa benci gue benar-benar sudah tidak tertahankan. Gue memutuskan untuk tidak
ingin bertemu dia lagi selamanya. Sampai akhirnya gue dapat kabar jikalau dia
kecelakaan dan koma. Awalnya gue pikir itu hanya sebatas candaan saja. Dan itu
ternyata benar. Dikirimlah foto saat carlos di rumah sakit. Sudah terpasang
Monitor jantung, Oksigen dan lain-lain. Tanpa gue sadari, air mata guepun
membasahi pipi. Gue bertekad untuk menjenguk dia keesokan harinya namun ternyata
Tuhan sudah memanggilnya terlbih dahulu. Belom sempat gue menjenguknya dia
sudah meninggalkan gue. Gue merasanya menyesal telah memutuskan untuk tidak
ingin bertemu dia lagi selamanya. Entah ini kebetulan atau saja memang karena
sudah kehendak Tuhan. Sampai gue selesai menulis cerita ini. Rasa bersalah dan
menyesal memutuskan perkataan itu masih gue ingat dan tak akan gue lupakan.
Sekarang,
gue hanya dapat melewati hari-hari gue tanpa Carlos. Tidak ada yang gue
stalking lagi setiap hari status ataupun foto facebooknya. Gue sendiri, tanpa
ada satupun yg hadir dalam hidup gue. Bahkan mantan yang lainpun masih belom
bisa menggantikan dirinya dalam hati gue. Sendiri dalam kenangan bersama
Carlos.
Sekarang
yang dapat gue lakukan hanya berdiri tegar, mencoba mengisi hari-hari gue
dengan sesuatu yang indah dan mencoba membuka hati kembali untuk orang lain.
Sesekali waktu gue selalu memposting foto-foto dirinya di akun facebook gue.
“ Kengangan bersamamu ingin rasanya
terulang kembali. Aku yakin kamu adalahorang yang terbaik yang pernah aku
miliki. Dan kita akan menjadi sebuah layaknya film berbie yang akan berakhir
happy ending. Entah akan menjadi kenyataan atau bayanganku saja. Airmata tak
selalu menunjukan kesedihan.begitu pula dengan senyuman. Kamu adalah alasanku
untuk tersenyum dan bertahan. Sebuah kata cinta membuatku buta tentang segala
hal keburukanmu. Ku usap air mataku, menghulangkan kesedihan mala mini dan katakana
pada diri sendiribahwa hidup harus terus berjalan. Terima kasih atas segalanya.
Terima kasih, kamu sudah mau berdiri di sisiku dan mengenggam tanganku, memberi
arti berbeda dalam perjalanan hidupku. Setidaknya dulu, aku tahu. Aku berdiri
untuk siapadan untuk apa. Kini aku hanya berharap, semoga kau tersenyum dirumah
Tuhan dan melihatku menulis tentang kisah kita “
Fanny Permatasari Manurung
